Bukti bahwa segala sesuatu mengharuskan adanya
Pencipta yang menciptakannya, dapat diterangkan sebagai
berikut: bahwa segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal
terbagi dalam tiga unsur, yaitu manusia, alam semesta, dan
hidup. Ketiga unsur ini bersifat terbatas, lemah, serba kurang,
dan saling membutuhkan kepada yang lain. Misalnya manusia.
Manusia terbatas sifatnya, karena ia tumbuh dan berkembang
sampai pada batas tertentu yang tidak dapat dilampuinya
lagi. Ini menunjukkan bahwa manusia bersifat terbatas.
Begitu pula halnya dengan hidup, bersifat terbatas, karena
penampakannya bersifat individual. Apa yang kita saksikan
selalu menunjukkan bahwa hidup ini berakhir pada satu
individu saja. Jadi, hidup juga bersifat terbatas. Sama halnya
dengan alam semesta yang memiliki sifat terbatas. Alam
semesta merupakan himpunan dari benda-benda angkasa,
yang setiap bendanya memiliki keterbatasan. Himpunan
segala sesuatu yang terbatas, tentu terbatas pula sifatnya. Jadi,
alam semesta pun bersifat terbatas. Walhasil, manusia, hidup,
dan alam semesta, ketiganya bersifat terbatas.
Apabila kita melihat kepada segala sesuatu yang bersifat
terbatas, akan kita simpulkan bahwa semuanya tidak azali.
Jika bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir), tentu
tidak mempunyai keterbatasan. Dengan demikian segala
yang terbatas pasti diciptakan oleh “sesuatu yang lain”.
“Sesuatu yang lain” inilah yang disebut Al-Khaliq. Dialah
yang menciptakan manusia, hidup, dan alam semesta. Dalam
menentukan keberadaan Pencipta ini akan kita dapati tiga
kemungkinan. Pertama, Ia diciptakan oleh yang lain. Kedua,
Ia menciptakan diri-Nya sendiri. Ketiga, Ia bersifat azali dan
wajibul wujud. Kemungkinan pertama bahwa Ia diciptakan
oleh yang lain adalah kemungkinan yang bathil, tidak dapat
diterima oleh akal. Sebab, bila benar demikian, tentu Ia
bersifat terbatas. Begitu pula dengan kemungkinan kedua,
yang menyatakan bahwa Ia menciptakan diri-Nya sendiri. Jika
demikian berarti Dia sebagai makhluk dan Khaliq pada saat
yang bersamaan. Hal yang jelas-jelas tidak dapat diterima.
Karena itu, Al-Khaliq harus bersifat azali dan wajibul wujud.
Dialah Allah SWT.
jelaskan paragraph di atas!