dialog antara penggemar matematika dan penggemar memancing
📍Setting: Di teras rumah B, sore hari. A sedang berkunjung ke rumah B. Mereka duduk santai sambil minum teh.
A:
Tempatmu tenang banget ya. Enak buat santai.
Kamu masih sering mancing?
B:
Iya, tiap akhir pekan biasanya. Kemarin ke danau, dapat tiga ikan nila lumayan besar.
A:
Wah, seru juga ya. Emang biasanya mancing di mana aja?
B:
Kadang di sungai belakang desa, kadang ke danau. Tergantung cuaca juga. Kalau airnya tenang, lebih mudah.
A:
Butuh sabar banget ya? Nunggu umpannya disambar?
B:
Hehe, iya. Tapi itu bagian paling nikmat. Nunggu, diam, terus tiba-tiba… jepret! Kail ditarik. Rasanya puas.
A:
Keren. Aku jadi kepikiran, teknik mancing itu kayak strategi juga ya. Kayak memperkirakan peluang.
B:
Bisa dibilang gitu sih. Harus peka juga baca situasi.
A:
Ngomong-ngomong soal baca situasi, aku suka banget matematika, terutama probabilitas.
Kadang aku mikir, orang mancing itu kayak menjalankan eksperimen statistik alam.
B:
Hah? Gimana maksudnya?
A:
Misalnya gini: kamu lempar umpan 10 kali, dari situ kamu bisa perkirakan di jam berapa ikan paling sering nyambar, di kedalaman berapa, pakai umpan apa. Semua itu bisa dianalisis.
B:
Wah, iya juga ya… aku gak pernah mikir sejauh itu.
A:
Matematika kadang bikin aku mikir hal-hal yang kelihatannya biasa. Tapi makin dipikir, ternyata dalam juga.
B:
Menarik juga sih. Gak nyangka mancing bisa nyambung ke matematika.
A:
Hehe, semua bisa disambung kalau kita lihat polanya. Itu yang bikin aku suka banget sama matematika.
B:
Oke, lain kali kamu ikut aku mancing. Nanti kamu hitung statistiknya, aku yang tarik ikannya!
A:
Deal! Win-win!
Dialog ini santai, ngalir, dan menggambarkan dua orang dengan minat berbeda saling menghargai dan menemukan titik temu. Mau dibuat versi lain dengan lebih dalam atau lebih lucu?
0 komentar:
Posting Komentar