antara matematikawan numerologi dan semiotika
Ada perdebatan antara sesama penggemar matematika. Yang satu numerolog. Dia berkata: angka-angka itu ada luar sana. Mereka itu kenyataan. Mereka itu kebenaran. Aku tidak membuatnya. Aku menemukannya. Yang satu matematikawan murni tapi mempelajari semiotika dan bahasa. Dia berkata: angka-angka itu terlihat begitu karena kamu melihatnya begitu. Kamu ingin melihat begitu, makanya angkanya terlihat begitu. Kamu yang memberi arti pada angka-angka itu. Tanpa kamu mereka nggak ada artinya. Bagaimana menurutmu tentang perdebatan di atas?
jawab:
Perdebatan itu menyentuh salah satu pertanyaan paling tua dan paling dalam dalam filsafat matematika:
Apakah matematika itu ditemukan atau diciptakan?
Kedua pihak yang kamu sebut mewakili dua kutub utama:
🧠 Pihak 1 – "Numerolog":
"Angka itu nyata, ada di luar sana, kita menemukannya."
Ini sejalan dengan Platonisme matematika:
-
Objek-objek matematika (bilangan, titik, lingkaran sempurna, dsb) ada secara independen dari manusia.
-
Tugas manusia adalah menemukan dan memahami realitas matematika itu, seperti ilmuwan menemukan planet.
Contoh argumen:
-
Pi selalu ada, bahkan sebelum manusia menghitung lingkaran.
-
Teorema Pythagoras benar, bahkan sebelum Pythagoras lahir.
🧠 Pihak 2 – "Matematikawan semiotik":
"Angka hanya berarti karena kita memberi makna pada simbol-simbol itu."
Ini sejalan dengan Konstruktivisme atau bahkan Formalism & Semiotic View:
-
Matematika adalah sistem simbol buatan manusia, seperti bahasa.
-
Makna muncul karena kesepakatan, bukan karena “realitas luar”.
-
Tanpa manusia, simbol “5” hanyalah coretan tak bermakna.
Contoh argumen:
-
Bilangan “0” tidak muncul di semua peradaban — itu menunjukkan konstruksi kultural.
-
Simbol ∞ (tak hingga) bukan sesuatu yang ada, tapi representasi dari konsep tak berhingga yang kita buat.
🔍 Pendapatku:
Keduanya benar dalam wilayah masing-masing. Tapi harus dibedakan:
✅ 1. Struktur matematika mungkin memang ditemukan.
Seperti hukum-hukum simetri, keteraturan bilangan prima, atau geometri ruang — ini bisa saja “ada” terlepas dari kita.
Contoh:
Jika ada alien cerdas di galaksi lain, kemungkinan besar mereka juga menemukan bilangan prima dan teorema dasar aritmetika. Karena sifatnya universal.
✅ 2. Simbol, bahasa, dan penafsiran matematika jelas diciptakan.
Representasi, notasi, dan makna angka itu muncul karena kita memilih cara melihatnya.
Contoh:
-
Kita menulis “π”, tapi bisa juga “pi”, atau angka 3.14159…
-
Kita pakai basis 10. Tapi komputer pakai basis 2. Itu pilihan, bukan kebenaran universal.
🧩 Analogi yang bisa membantu:
Matematika seperti peta realitas.
-
Ada struktur dunia luar (seperti kontur bumi).
-
Tapi kita memilih bagaimana menggambarnya — dengan simbol, bahasa, sistem koordinat.
-
Kita bisa punya banyak peta berbeda untuk wilayah yang sama.
📌 Kesimpulan:
| Aspek | Pandangan Platonik | Pandangan Semiotik |
|---|---|---|
| Bilangan sebagai entitas | Ditemukan, nyata | Diciptakan, makna konvensional |
| Simbol dan notasi | Representasi dari realitas | Sistem bahasa buatan |
| Peran manusia | Penemu hukum yang sudah ada | Pembuat sistem makna |
Kebenaran matematika itu mungkin ada di luar sana. Tapi arti dari angka-angka itu — datang dari cara kita memilih melihatnya.
Jadi, jika ditanya mana yang benar: mungkin angka-angka itu memang “ada”, tapi tanpa kesadaran manusia — mereka tak pernah berarti apa-apa.
0 komentar:
Posting Komentar