berkas-berkas untuk mempelajari hal-hal yang belum diketahui bersama artificial intelligence

BTemplates.com


Selasa, 29 Juli 2025

antara matematikawan numerologi dan semiotika


 Ada perdebatan antara sesama penggemar matematika. Yang satu numerolog. Dia berkata: angka-angka itu ada luar sana. Mereka itu kenyataan. Mereka itu kebenaran. Aku tidak membuatnya. Aku menemukannya. Yang satu matematikawan murni tapi mempelajari semiotika dan bahasa. Dia berkata: angka-angka itu terlihat begitu karena kamu melihatnya begitu. Kamu ingin melihat begitu, makanya angkanya terlihat begitu. Kamu yang memberi arti pada angka-angka itu. Tanpa kamu mereka nggak ada artinya. Bagaimana menurutmu tentang perdebatan di atas?

jawab:

Perdebatan itu menyentuh salah satu pertanyaan paling tua dan paling dalam dalam filsafat matematika:

Apakah matematika itu ditemukan atau diciptakan?

Kedua pihak yang kamu sebut mewakili dua kutub utama:


🧠 Pihak 1 – "Numerolog":

"Angka itu nyata, ada di luar sana, kita menemukannya."

Ini sejalan dengan Platonisme matematika:

  • Objek-objek matematika (bilangan, titik, lingkaran sempurna, dsb) ada secara independen dari manusia.

  • Tugas manusia adalah menemukan dan memahami realitas matematika itu, seperti ilmuwan menemukan planet.

Contoh argumen:

  • Pi selalu ada, bahkan sebelum manusia menghitung lingkaran.

  • Teorema Pythagoras benar, bahkan sebelum Pythagoras lahir.


🧠 Pihak 2 – "Matematikawan semiotik":

"Angka hanya berarti karena kita memberi makna pada simbol-simbol itu."

Ini sejalan dengan Konstruktivisme atau bahkan Formalism & Semiotic View:

  • Matematika adalah sistem simbol buatan manusia, seperti bahasa.

  • Makna muncul karena kesepakatan, bukan karena “realitas luar”.

  • Tanpa manusia, simbol “5” hanyalah coretan tak bermakna.

Contoh argumen:

  • Bilangan “0” tidak muncul di semua peradaban — itu menunjukkan konstruksi kultural.

  • Simbol ∞ (tak hingga) bukan sesuatu yang ada, tapi representasi dari konsep tak berhingga yang kita buat.


🔍 Pendapatku:

Keduanya benar dalam wilayah masing-masing. Tapi harus dibedakan:

✅ 1. Struktur matematika mungkin memang ditemukan.

Seperti hukum-hukum simetri, keteraturan bilangan prima, atau geometri ruang — ini bisa saja “ada” terlepas dari kita.

Contoh:
Jika ada alien cerdas di galaksi lain, kemungkinan besar mereka juga menemukan bilangan prima dan teorema dasar aritmetika. Karena sifatnya universal.

✅ 2. Simbol, bahasa, dan penafsiran matematika jelas diciptakan.

Representasi, notasi, dan makna angka itu muncul karena kita memilih cara melihatnya.

Contoh:

  • Kita menulis “π”, tapi bisa juga “pi”, atau angka 3.14159…

  • Kita pakai basis 10. Tapi komputer pakai basis 2. Itu pilihan, bukan kebenaran universal.


🧩 Analogi yang bisa membantu:

Matematika seperti peta realitas.

  • Ada struktur dunia luar (seperti kontur bumi).

  • Tapi kita memilih bagaimana menggambarnya — dengan simbol, bahasa, sistem koordinat.

  • Kita bisa punya banyak peta berbeda untuk wilayah yang sama.


📌 Kesimpulan:

Aspek Pandangan Platonik Pandangan Semiotik
Bilangan sebagai entitas Ditemukan, nyata Diciptakan, makna konvensional
Simbol dan notasi Representasi dari realitas Sistem bahasa buatan
Peran manusia Penemu hukum yang sudah ada Pembuat sistem makna

Kebenaran matematika itu mungkin ada di luar sana. Tapi arti dari angka-angka itu — datang dari cara kita memilih melihatnya.

Jadi, jika ditanya mana yang benar: mungkin angka-angka itu memang “ada”, tapi tanpa kesadaran manusia — mereka tak pernah berarti apa-apa.

0 komentar:

Posting Komentar