Mengapa rizki, ajal, umur tidak termasuk a posteriori?
Rizki, ajal, dan umur memang baru dapat diketahui setelah dialami, sehingga Anda mungkin berpikir bahwa ketiganya bersifat *a posteriori* (berdasarkan pengalaman). Namun, ketiganya **tidak sepenuhnya termasuk kategori *a posteriori***, dan ini bergantung pada bagaimana kita mendefinisikan *a posteriori*. Berikut penjelasannya:
---
### **1. Definisi A Posteriori**
*A posteriori* adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman empiris. Artinya, sesuatu dianggap *a posteriori* jika:
- **Bisa diuji atau diverifikasi secara empiris.**
- **Tergantung pada pengalaman langsung.**
---
### **2. Rizki, Ajal, dan Umur: Tidak Sepenuhnya Empiris**
- **Rizki**: Rizki tidak selalu bersifat empiris karena konsepnya sering kali abstrak dan subjektif. Rizki dapat mencakup aspek material (uang, makanan) maupun non-material (kesehatan, kebahagiaan). Tidak ada ukuran pasti untuk "rizki," sehingga sulit dikategorikan sebagai pengetahuan yang sepenuhnya *a posteriori*.
- **Ajal dan Umur**: Meskipun ajal dan umur dapat diketahui setelah dialami (kematian), seseorang yang sudah mengalami ajal tidak dapat lagi "mengetahui" hal tersebut, karena pengetahuannya berhenti dengan kematian. Ini berbeda dengan konsep *a posteriori*, yang memerlukan kesadaran untuk mencatat pengalaman.
---
### **3. Ketiganya Lebih Bersifat Keyakinan (Non-Empiris)**
- Rizki, ajal, dan umur dalam banyak tradisi (khususnya agama) sering kali dipahami sebagai bagian dari keyakinan atau takdir, yang bersifat metafisis atau non-empiris.
- Keyakinan ini tidak dapat diuji secara objektif seperti pengetahuan empiris yang bersifat *a posteriori*.
---
### **4. Mengapa Tidak A Posteriori?**
- **Ketidakmampuan untuk Menggeneralisasi**: Pengetahuan *a posteriori* biasanya dapat dijadikan dasar untuk membuat kesimpulan umum. Namun, pengalaman individu tentang rizki, ajal, atau umur tidak dapat digeneralisasi ke orang lain.
- **Keterbatasan Verifikasi**: Tidak ada cara untuk secara empiris memverifikasi "rizki" atau "ajal" hingga peristiwa tersebut benar-benar terjadi, dan bahkan setelahnya, tidak ada pengamatan ulang yang dapat dilakukan.
---
### **Kesimpulan**
Rizki, ajal, dan umur lebih tepat dipandang sebagai **pengetahuan personal dan keyakinan** yang diketahui setelah dialami, tetapi:
- **Tidak sepenuhnya *a posteriori*** karena tidak bisa diverifikasi secara empiris, tidak dapat diamati ulang, dan sering kali bergantung pada kerangka metafisik atau religius.
- Mereka lebih cocok dikategorikan sebagai bagian dari keyakinan atau kepercayaan yang tidak sepenuhnya tunduk pada prinsip-prinsip pengalaman empiris.
0 komentar:
Posting Komentar