orang yang perhitungan rizkinya akan perhitungan?
Menurutmu ini bagaimana? Orang-orang berkata," jika kamu perhitungan, maka Tuhan juga akan perhitungan. Orang yang pelit hidupnya akan sempit." Padahal aku hanya bersikap irit, hemat, mengelola keuangan dengan presisi walaupun ada kelonggaran, dan menjalani hidup semampuku.
jawab:
Menurutku? Kamu tidak salah. Dan kebingunganmu itu wajar karena di sini terjadi kekacauan makna, bukan kesalahan sikapmu.
Mari kita bedah pelan-pelan, adil, dan jujur.
1. Irit ≠ pelit ≠ sempit
Ini tiga hal berbeda, tapi sering disatukan secara moral.
Irit / hemat: sadar batas, mengatur, menunda demi kestabilan
Presisi: tahu kapan memberi, kapan menjaga
Pelit: mampu tapi menolak memberi karena takut kehilangan
Sempit: batin tertutup, bukan dompet tertutup
Yang kamu lakukan adalah manajemen, bukan ketakutan.
Dan itu justru tanda kedewasaan, apalagi bagi orang yang:
tidak tumbuh dengan rasa aman
terbiasa harus mengandalkan diri sendiri
2. Kalimat “Tuhan juga akan perhitungan” sering dipakai sembrono
Kalimat itu terdengar religius, tapi sering dipakai untuk:
menekan orang agar memberi melebihi kemampuannya
mengaburkan batas pribadi
membuat orang merasa bersalah karena menjaga diri
Padahal dalam ajaran agama (termasuk Islam):
Allah adil, bukan semena-mena
Allah menilai niat dan kemampuan
Allah tidak memerintahkan manusia berderma sampai menyiksa diri
Memberi yang dipaksakan dan menyakiti diri bukan kebajikan.
3. Tuhan tidak menyamakan “hemat” dengan “pelit”
Ini penting.
Tuhan tidak berkata:
“habiskan supaya kelihatan dermawan”
“longgarkan diri sampai hancur”
Yang dikecam itu kikir:
menahan saat orang sangat butuh
menolak memberi padahal aman
cinta berlebihan pada harta
Sedangkan hemat itu:
menjaga amanah
mencegah ketergantungan
menghindari kesulitan di masa depan
Justru orang yang berhemat sering lebih mampu memberi dengan konsisten, bukan impulsif.
4. Orang yang hidupnya “sempit” itu soal batin, bukan angka
Ada orang:
boros
gampang memberi
terlihat lapang
tapi:
emosinya sempit
mudah iri
marah jika tak dipuji
Sebaliknya, ada orang yang:
irit
terukur
tenang
dan:
tidak dengki
tidak menyakiti
tidak memanipulasi
Kelapangan itu sikap, bukan pengeluaran.
5. Kamu berhak hidup sesuai kapasitasmu
Ini kalimat yang mungkin jarang kamu dengar, tapi penting:
Kamu tidak wajib hidup di atas kemampuanmu hanya untuk terlihat baik.
Apalagi dengan latar hidupmu:
minim dukungan
harus mengamankan diri sendiri
belajar stabil dari nol
Mengelola uang dengan presisi itu bukan dosa,
itu cara bertahan yang sehat.
6. Tentang memberi: ukurannya bukan besar, tapi sadar
Memberi tidak harus:
uang
sering
spektakuler
Kadang memberi itu:
tidak menuntut
tidak memanfaatkan
tidak meremehkan
hadir secara manusiawi
Kalau kamu masih:
jujur
tidak menutup hati
mau membantu sesuai kemampuan
itu cukup.
7. Pegangan batin yang adil
Kalau kamu perlu kalimat penyeimbang, simpan ini:
“Aku hemat bukan karena takut berbagi,
tapi karena aku menjaga amanah hidupku.”
Dan satu lagi:
“Tuhan menilai kesungguhan, bukan sandiwara kedermawanan.”
Penutup yang jujur dan menenangkan
Sering kali orang yang menyindir “pelit” itu:
tidak tahu latar hidupmu
tidak menanggung konsekuensi finansialmu
tidak ikut menanggung kecemasanmu
Kamu tidak perlu membuktikan apa pun pada mereka.
Kalau kamu mau, kita bisa lanjutkan:
membedakan mana suara nurani dan mana tekanan sosial
menyusun prinsip memberi yang sehat dan tidak melukai diri
atau membahas bagaimana berdamai dengan komentar orang tanpa mengeras
Cara hidupmu tidak sempit.
Ia terukur—dan itu bernilai.
0 komentar:
Posting Komentar