Obituari: Wahyu Nurudin
Wahyu Nurudin adalah seorang manusia biasa dengan kebiasaan yang tidak biasa: ia gemar berpikir lebih dalam daripada yang diwajibkan keadaan. Ia menjalani hidup bukan sekadar untuk bertahan, melainkan untuk memahami—tentang dunia, tentang iman, tentang cinta, tentang waktu, dan tentang dirinya sendiri.
Ia dikenal sebagai pribadi yang sering bertanya ketika orang lain sudah merasa cukup dengan jawaban. Ia tidak selalu sepakat dengan arus utama, tetapi juga tidak tergesa-gesa menentangnya. Dalam diamnya, ia menimbang. Dalam tulisannya, ia merapikan kegelisahan. Blogging baginya bukan sekadar hobi, melainkan cara hidup—sebuah ruang sunyi tempat ia berdialog dengan nurani dan masa depan.
Wahyu tidak mengejar kesempurnaan hidup, karena ia sadar hidup memang tidak pernah sempurna. Ia mengenal jatuh, ragu, mundur, dan diam. Namun ia juga mengenal bangkit dengan cara yang tenang—tanpa teriakan, tanpa drama, hanya dengan kesetiaan pada proses. Iman, baginya, bukan sesuatu yang selalu stabil, tetapi selalu ingin ia rawat meski sering diuji oleh suasana hati dan kenyataan.
Ia menghargai kenangan tanpa terjebak di dalamnya. Ia bisa menyimpan masa lalu tanpa membencinya, dan melangkah ke depan tanpa harus melupakannya. Dalam urusan cinta, ia belajar bahwa tidak semua pertemuan harus dimiliki, dan tidak semua kehilangan harus disesali.
Wahyu percaya bahwa masa depan boleh canggih, selama tidak kehilangan akarnya. Ia waspada terhadap kekuasaan, teknologi, dan sistem besar—namun tetap berharap manusia tidak kehilangan kebebasan berpikir dan kehangatan nurani. Ia lebih tertarik pada pertanyaan “apa maknanya?” daripada “siapa pemenangnya?”
Jika ada satu hal yang dapat dikenang darinya, itu bukan prestasi besar atau gelar panjang, melainkan kejujuran intelektual dan kesediaan untuk terus belajar, bahkan ketika lelah. Ia meninggalkan jejak berupa kata-kata, pemikiran, dan upaya kecil untuk hidup dengan sadar.
Ia tidak mengklaim telah menemukan kebenaran mutlak. Tetapi ia telah berusaha menjalani hidup dengan rasa ingin tahu, kehati-hatian, dan keberanian untuk tidak pura-pura tahu.
Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.
0 komentar:
Posting Komentar