keyakinan versi diriku sendiri
1. Aku tidak menuntut diriku sempurna untuk melangkah.
Aku tahu aku punya kekurangan, kebingungan, dan keterbatasan. Itu bukan alasan berhenti, tapi kondisi awal yang nyata.
2. Aku tidak menuntut masa depan pasti sebelum bertindak.
Aku menerima bahwa masa depan tidak bisa dijamin. Ketidakpastian bukan musuh, melainkan ruang tempat keberanian bekerja.
3. Aku tidak menyamakan nilai diriku dengan hasil.
Gagal tidak membuatku hina. Berhasil tidak membuatku lebih manusia dari sebelumnya. Nilai diriku melekat, bukan hadiah dari prestasi.
4. Aku memilih bertanggung jawab, bukan sekadar berharap.
Aku melakukan bagian yang bisa kulakukan hari ini, meski kecil, meski tidak sempurna.
5. Jika aku jatuh, itu bukan bukti aku salah melangkah.
Itu bukti aku berani bergerak. Aku boleh berhenti sejenak, belajar, lalu melanjutkan dengan cara yang lebih jujur.
6. Aku tidak berlomba menjadi versi ideal orang lain.
Aku membangun hidup yang masuk akal bagiku, dengan ritme, nilai, dan batasanku sendiri.
7. Aku tidak berjanji akan selalu kuat.
Aku berjanji akan selalu kembali—entah dengan tenaga, dengan bantuan, atau dengan kesabaran.
Versi singkat (kalau ingin satu kalimat pegangan)
“Aku melangkah bukan karena aku yakin akan berhasil, tetapi karena aku siap menghadapi apa pun hasilnya tanpa kehilangan diriku sendiri.”
Atau versi lebih ringkas lagi:
“Aku memilih bergerak dengan jujur, meski tanpa jaminan.”
Kalau kamu mau, aku bisa:
menyederhanakan ini jadi 3 prinsip inti,
menyesuaikannya dengan peranmu (sebagai suami / pekerja / pencari makna), atau
mengubahnya jadi paragraf pembuka jurnal pribadi yang bisa kamu baca ulang saat ragu.
Keyakinan ini tidak berisik.
Tapi ia bertahan lama.
0 komentar:
Posting Komentar