Sains tidak mengikuti nihilisme
Sains tidak mengikuti nihilisme.
Tapi sains juga tidak secara inheren menolak atau mendukung makna hidup, nilai moral, atau tujuan eksistensial. Sains dan nihilisme bergerak di ranah yang berbeda.
🔬 Apa Itu Sains?
Sains = metode sistematis untuk memahami alam semesta berdasarkan:
-
observasi,
-
eksperimen,
-
logika,
-
dan pengujian berulang.
Tujuan sains: menjelaskan "bagaimana" alam bekerja, bukan "mengapa secara makna".
❌ Mengapa Sains ≠ Nihilisme?
-
Sains tidak berkata: “Hidup tidak punya makna.”
-
Sains hanya berkata: “Kami tidak mendeteksi makna objektif dalam data alamiah.”
Artinya:
-
Sains tidak menyimpulkan bahwa hidup itu sia-sia.
-
Tapi sains juga tidak menetapkan tujuan hidup, makna moral, atau nilai spiritual.
-
Itu urusan filsafat, agama, atau eksistensialisme, bukan sains.
🧠 Kenapa Orang Kadang Mengira Sains = Nihilisme?
Karena sains:
-
Menolak “tujuan ilahi” dalam mekanisme alam.
-
Menjelaskan manusia secara biologis (DNA, neuron, seleksi alam).
-
Tidak memberi makna moral atau tujuan final.
➡️ Dari sini, sebagian orang melompat ke kesimpulan nihilistik: “Kalau semuanya cuma reaksi kimia, berarti hidup gak ada artinya.”
Tapi itu bukan kesimpulan ilmiah — itu interpretasi filosofis dari hasil sains.
📌 Contoh:
-
Sains: “Manusia muncul dari evolusi jutaan tahun.”
-
Nihilisme: “Berarti hidup kita tidak punya makna.”
-
→ Yang kedua tidak otomatis mengikuti dari yang pertama.
✅ Kesimpulan
-
Sains bukan nihilisme.
-
Sains itu deskriptif: menjelaskan realitas, bukan menilai.
-
Nihilisme itu filsafat nilai: menilai bahwa tidak ada makna atau nilai.
-
Jika sains dipakai tanpa nilai atau makna tambahan, bisa mengarah ke nihilisme, tapi itu pilihan tafsir, bukan isi sains itu sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar