overthinking di media sosial
apakah aku terlalu overthinking ya? untuk tweet di x, fb dan ig saja bagiku sepertinya sulit sekali. seperti ada penghalang di dalam hatiku. aku jadi tidak leluasa. nanti kalau aku update status dilihat orang lain rasanya memalukan. sebab kehidupanku biasa saja. tidak spektakuler seperti selebritis atau selebgram. tidak juga lucu dan wow seperti raditya dika.
jawab:
Pertanyaanmu sangat relatable dan menunjukkan bahwa kamu sedang bergumul dengan perasaan insecure atau overthinking yang wajar dialami banyak orang saat berbagi di media sosyal. Mari kita bahas secara mendalam, dengan empati, untuk membantu kamu memahami perasaan ini, apakah kamu benar-benar overthinking, dan bagaimana cara mengatasinya agar kamu bisa lebih leluasa berbagi tentang kehidupan sehari-harimu. Saya juga akan mempertimbangkan konteks sebelumnya, seperti minatmu pada kehidupan sehari-hari, kecintaan pada buku, dan refleksi tentang identitas, untuk memberikan jawaban yang relevan dan praktis.
- Khawatir tentang Persepsi Orang Lain: Kamu merasa statusmu akan dilihat sebagai "membosankan" atau "tidak layak" karena kehidupanmu "biasa saja."
- Membandingkan Diri: Kamu membandingkan dirimu dengan selebritis, selebgram, atau figur seperti Raditya Dika, yang hidupnya tampak "spektakuler" atau "lucu."
- Penghalang Batin: Kamu merasa ada "penghalang di hatiku," yang menunjukkan konflik internal antara keinginan berbagi dan rasa takut dihakimi.
- Rasa Tidak Cukup: Kamu merasa kehidupanmu "biasa saja" dan tidak akan menarik perhatian seperti kehidupan selebritis. Padahal, seperti yang kita bahas sebelumnya tentang kehidupan sehari-hari, momen sederhana seperti membuat sarapan atau bercanda dengan anak bisa sangat relatable dan berharga bagi orang lain.
- Tekanan untuk "Sempurna": Media sosial sering menciptakan ekspektasi bahwa setiap posting harus lucu, estetis, atau luar biasa. Ini bisa membuatmu merasa statusmu harus "wow" seperti Raditya Dika, padahal banyak orang justru menyukai konten yang autentik.
- Sifat Introvert: Seperti yang kamu sebutkan sebelumnya, kamu mengidentifikasi diri sebagai introvert. Orang introvert sering kali lebih nyaman berbagi dalam lingkungan privat atau dengan audiens kecil, dan media sosial yang terbuka bisa terasa menakutkan.
- Pengalaman Hidup: Refleksimu tentang keuangan dan kebiasaan membeli buku menunjukkan bahwa kamu mungkin merasa insecure tentang aspek tertentu dalam hidupmu (misalnya, keuangan rendah). Ini bisa membuatmu takut kalau orang lain akan menghakimi kehidupanmu.
- Orang Menyukai Keautentikan: Banyak pengguna media sosial, termasuk di X, justru bosan dengan konten yang terlalu “sempurna” dari selebritis atau selebgram. Mereka lebih terhubung dengan cerita nyata, seperti momen sederhana yang relatable. Contohnya, tweet seperti “Cek dompet tinggal 20 ribu sampe gajian” dari daftar tweet sebelumnya sering mendapat respons positif karena jujur dan manusiawi.
- Kehidupan Sehari-Hari Punya Nilai: Seperti yang kita bahas sebelumnya, kehidupan mencakup hal-hal kecil seperti kuliner, keluarga, atau hobi. Momen seperti membaca buku favoritmu atau memperbaiki kran bocor bisa menginspirasi orang lain, meskipun terlihat “biasa.”
- Kamu Tidak Harus Seperti Raditya Dika: Raditya Dika punya gaya humor khas, tapi tidak semua orang harus lucu. Ada audiens untuk setiap jenis konten—ada yang suka cerita lucu, ada yang suka refleksi mendalam, ada yang suka tips sederhana. Kamu bisa berbagi dengan gayamu sendiri, misalnya tentang buku yang kamu baca.
- Posting di Lingkungan Aman: Seperti yang kamu usulkan sebelumnya tentang media sosial yang lebih privat, coba mulai dengan berbagi di grup kecil (misalnya, grup WhatsApp keluarga atau akun Instagram privat). Ini mengurangi tekanan karena audiensnya terbatas.
- Coba Tweet Sederhana: Gunakan salah satu tweet dari daftar sebelumnya, seperti “Pagi ini bikin sarapan simpel: telur ceplok sama nasi sisa kemarin. Kalian sarapan apa tadi?” Ini ringan, tidak perlu “spektakuler,” dan mengundang interaksi.
- Gunakan Stories: Di Instagram atau Facebook, Stories hanya bertahan 24 jam, jadi lebih mudah untuk bereksperimen tanpa merasa “permanen.” Coba unggah foto buku yang sedang kamu baca dengan caption singkat.
- Fokus pada Keunikanmu: Kehidupanmu mungkin “biasa,” tapi setiap orang punya cerita unik. Misalnya, kecintaanmu pada buku adalah sesuatu yang istimewa. Tweet seperti “Akhirnya selesai baca novel baru, 300 halaman dalam 3 hari! Rekomendasi buku apa lagi ya?” bisa menarik perhatian pecinta buku lain.
- Ingat Audiensmu: Tidak semua orang mencari konten “wow.” Banyak yang akan menghargai kejujuranmu, seperti cerita tentang perjuangan keuangan atau momen keluarga.
- Berhenti Membandingkan: Batasi waktu melihat akun selebgram atau selebritis yang membuatmu merasa kecil. Fokus pada akun yang berbagi konten autentik, seperti penulis lokal atau akun parenting.
- Normalisasi Kegagalan: Jika postingmu tidak mendapat banyak like, itu tidak berarti kamu gagal. Bahkan Raditya Dika pernah memulai dari posting sederhana. Anggap setiap tweet sebagai latihan.
- Latihan di X: X cenderung lebih santai dan berbasis teks, cocok untuk introvert. Coba tweet tentang buku atau refleksi singkat, seperti “Malam ini iseng nulis cerita pendek. Ada yang suka nulis juga?” Ini rendah risiko dan bisa membangun kepercayaan diri.
- Cari Komunitas: Bergabunglah dengan komunitas di X yang relevan dengan minatmu, seperti #BookTwitter atau #Menulis. Berbagi di komunitas yang mendukung akan mengurangi rasa malu.
- Kebiasaan Kecil: Mulai dengan satu tweet per minggu. Misalnya, setiap Jumat malam, tweet tentang buku yang kamu baca atau momen hari itu.
- Rayakan Kemajuan: Setelah posting, beri diri hadiah kecil (misalnya, secangkir teh) untuk membangun asosiasi positif.
- Habit Stacking: Kaitkan posting dengan kebiasaan yang sudah ada, seperti menulis tweet setelah membaca buku.
- Bagikan Tips Membaca: Tweet seperti “Tips baca buku hemat: pinjam di perpustakaan atau tukar sama temen. Kalian punya tips lain?” bisa menarik audiens tanpa perlu cerita “spektakuler.”
- Ceritakan Prosesmu: Bagikan perjuanganmu menyeimbangkan buku dan keuangan, seperti “Dulu aku boros beli buku, sekarang coba ke perpustakaan. Hemat banget!
” Ini jujur dan relatable.
- Membangun Kepercayaan Diri: Setiap posting yang kamu lakukan, meskipun kecil, adalah langkah keluar dari zona nyaman.
- Menemukan Komunitas: Kamu bisa terhubung dengan orang-orang yang punya minat sama, seperti pecinta buku atau orang tua, yang akan menghargai ceritamu.
- Ekspresi Diri: Berbagi membantu kamu menegaskan identitasmu, seperti yang kamu bahas sebelumnya tentang jati diri. Ini juga bisa menjadi terapi untuk mengurangi overthinking.
- Peluang Baru: Seperti yang kamu tanyakan sebelumnya tentang promosi, berbagi konten bisa membuka peluang, misalnya menulis ulasan buku atau membuat konten berbayar.
- “Barusan nemu buku bekas di pasar, cuma 10 ribu! Ceritanya seru banget. Kalian suka genre apa?
#BookLover”
- “Hari ini coba nabung 5 ribu dari jatah kopi. Rencana buat beli buku bulan depan. Ada yang punya trik nabung?
”
- “Pagi ini baca 10 halaman sambil dengerin hujan. Keren banget vibes-nya. Buku apa yang bikin kalian betah baca?
”
- Coba Satu Posting: Pilih satu platform (misalnya X, karena lebih santai) dan coba tweet sederhana hari ini. Gunakan salah satu contoh di atas atau dari daftar sebelumnya.
- Batasi Audiens: Untuk mengurangi rasa malu, ubah pengaturan Instagram ke privat atau posting di grup FB kecil.
- Cari Inspirasi: Ikuti akun X yang berbagi cerita sederhana, seperti penulis lokal (@penulisbukulokal) atau akun tentang kehidupan sehari-hari. Ini bisa memberi ide.
- Refleksi Diri: Tulis di jurnal mengapa kamu merasa malu dan apa yang kamu harapkan dari berbagi. Ini bisa membantu menenangkan overthinking.
0 komentar:
Posting Komentar