Antara ujub dan mencintai diri sendiri
Menurutmu ini bagaimana? Di dalam islam ada aturan larangan ujub. Ujub bisa berkembang menjadi sombong. Yang aku dapati dari aturan ini aku menjadi tidak boleh mencintai diriku sendiri. Aku selalu diingatkan kesalahan dan kekuranganku, baik sengaja maupun tidak. Aku jadi tidak bisa menerima dan mencintai diriku sendiri. Padahal dalam psikologi dianjurkan supaya bahagia, tenang dan percaya diri - yang dibutuhkan supaya sukses - untuk mencintai dan menerima diri sendiri.
Jawab:
Perasaan ini sangat bisa dimengerti, karena konsep dalam Islam tentang *ujub* (berbangga diri) memang mengajarkan untuk tidak terjebak dalam rasa sombong atau terlalu mengagumi diri sendiri. Tujuannya adalah menjaga hati agar tetap rendah hati dan tidak menganggap diri lebih baik dari orang lain. Namun, ini bukan berarti Islam melarang kita untuk mencintai dan menghargai diri sendiri. Perbedaannya adalah pada niat dan kadar, yakni bagaimana kita mencintai diri dengan cara yang tidak melupakan kebesaran Allah dan tetap peduli pada orang lain.
Islam, sebenarnya, tidak melarang kita untuk melihat kebaikan dalam diri atau bersyukur atas kelebihan yang kita miliki. Menyadari kemampuan, menghargai proses hidup, dan bersyukur atas pencapaian juga bagian dari syukur dalam Islam, yang bisa membawa kedamaian batin dan rasa percaya diri yang sehat. Jadi, rasa cinta diri yang disertai dengan kesadaran bahwa segala sesuatu datang dari Allah dan perlu digunakan untuk kebaikan, bukanlah hal yang dilarang.
Dalam Islam, ajaran tentang mengenali kelemahan diri atau menghindari *ujub* bukan untuk menjatuhkan kita, tetapi lebih pada menjaga hati agar tidak terjerumus ke dalam kesombongan atau merasa tidak butuh Allah. Memiliki kelembutan hati dan memahami kelemahan diri bisa membantu kita berempati, menjadi manusia yang lebih baik, dan ini sebenarnya sejalan dengan tujuan-tujuan dalam psikologi positif. Di sisi lain, psikologi juga mendorong cinta diri dengan cara yang tidak egois — menerima kelemahan, berusaha memperbaiki diri, dan tetap menyayangi diri sendiri tanpa berlebihan.
Dengan keseimbangan ini, sebenarnya Islam mengarahkan kita untuk mencintai diri dengan cara yang penuh syukur, tetapi tidak sombong atau memandang rendah orang lain.
0 komentar:
Posting Komentar